My Love Story
Inilah kisah ku bersama mbak Yuni.
Mbak Yuni sangat sempurna. Dengan kulit putih dan wajah yang
cantik tanpa polesan riasan, menjadikannya sungguh mempesona.
Waktu SD ia sempat sekolah di desa, setelah itu ia diajak
keluargaku di kota untuk melanjutkan sekolah sekaligus membantu keluargaku
terutama merawat aku.
Kami sangat akrab, bahkan di juga sering bobok bareng dan
menyuapin aku.
Mbak Yuni ikut dengan keluargaku sampai dia lulus SMA dan
saat itu aku kelas 2 SD.
Setelah lulus, dia kembali ke desa.
Namanya juga anak kecil, jadi aku belum ada perasaan apa-apa
terhadapnya.
Setelah itu kami jarang bertemu, paling-paling hanya setahun
satu atau dua kali.
Tiga tahun kemudian ia menikah dan waktu aku kelas dua SMP
aku harus pindah luar Jawa ke Kota Makassar mengikuti ayah yang dipindah tugas.
Setelah itu kami
tidak pernah bertemu lagi. Kami hanya berhubungan lewat surat dan kabarnya ia
sekarang telah memiliki seorang anak.
Pada waktu aku lulus SMA aku pulang ke rumah nenek dan
berniat mencari tempat kuliah di Kota Yogya.
Sesampai di rumah nenek aku tahu bahwa Mbak Yuni sudah punya
rumah sendiri dan tinggal bersama suaminya di desa seberang.
Setelah dua hari di rumah nenek aku berniat mengunjungi
rumah Mbak Yuni.
Setelah diberi tahu
arah rumahnya oleh nenek (sekitar 5 km) aku pergi kira-kira jam tiga sore dan
berniat menginap.
Dari sinilah cerita ini berawal. Setelah berjalan kurang
lebih 20 menit, akhirnya aku sampai di rumah yang ciri-cirinya sama dengan yang
dikatakan nenek.
Sejenak kuamati kelihatannya sepi, lalu aku coba mengetok
pintu rumahnya.
"Ya sebentar.." terdengar sahutan wanita dari
dalam.
Tak lama kemudian keluar seorang wanita dan aku masih kenal
wajah itu walau lama tidak bertemu.
Mbak Yuni terlihat manis dan kulitnya masih putih seperti dulu.
Dia sepertinya tidak mengenaliku.
"Cari siapa ya? tanya Mbak Yuni".
"Anda mbak yuni kan?.'' tanyaku
"Iya benar, anda siapa ya dan ada keperluan apa?"
Mbak Yuni kembali bertanya dengan raut muka yang berusaha mengingat-ingat.
"Masih inget sama aku nggak Mbak? Aku Aris Mbak, masak
lupa sama aku", kataku.
"Kamu Aris anaknya Pak Tono?" kata Mbak Yuni
setengah nggak percaya.
"Ya ampun Ris, aku nggak ngenalin kamu lagi. Berapa
tahun coba kita nggak bertemu." Kata Mbak Yuni sambil memeluk ku..
Aku kaget setengah mati, baru kali ini aku dipeluk seorang
wanita. Ada perasaan lain muncul waktu itu.
"Kamu kapan datangnya, dengan siapa" kata Mbak
Yuni sambil melepas pelukannya.
"Saya datang dua hari lalu, saya hanya sendiri."
kataku.
"Eh iya ayo masuk, sampai lupa, ayo duduk."
Katanya sambil menggandeng tanganku.
Kami kemudian duduk di ruang tamu sambil mengobrol
sana-sini, maklum lama nggak tetemu.
Mbak Yuni duduk berhimpitan denganku. Tentu saja aku salah
tingkah.
Aku sedikit deg deg'an karena hal ini, tapi aku coba
menghilangkan pikiran ini karena Mbak Yuni sudah aku anggap sebagai keluarga
sendiri.
"Eh iya sampai lupa buatin kamu minum, kamu pasti haus,
sebentar ya.." kata Mbak Yuni ditengah pembicaraan.
Tak lama kemudian ia datang, "Ayo ini diminum",
kata Mbak Yuni.
"Kok sepi, pada kemana Mbak?" Tanyaku.
"Oh kebetulan Mas Heri (suaminya Mbak Yuni) pergi
kerumah orang tuanya, ada keperluan dan si Dani (anaknya Mbak Yuni) ikut"
jawab Mbak Yuni.
"Belum punya Adik Mbak dan Mbak Yuni kok nggak
ikut?" tanyaku lagi.
"Belum Ris padahal udah pengen lho.. tapi memang
dapatnya lama mungkin ya, kayak si Dani dulu.
Mbak Yuni ngurusi rumah jadi nggak bisa ikut" katanya.
"Eh kamu nginep disini kan? Mbak masih kangen lho sama
kamu" katanya lagi.
"Iya Mbak, tadi sudah pamit kok" kataku.
"Kamu mandi dulu sana, ntar keburu dingin" kata
Mbak Yuni.
Lalu aku pergi mandi di belakang rumah dan setelah selesai
aku lihat-lihat kolam ikan di belakang rumah dan kulihat Mbak Yuni gantian
mandi.
Kurang lebih lima belas menit, Mbak Yuni selesai mandi dan
aku terkejut karena ia hanya mengenakan handuk saja.
Aku sungguh terpesona saat itu.
"Sayang Ris ikannya masih kecil, belum bisa buat
lauk" kata Mbak Yuni sambil melangkah ke arahku lalu kami ngobrol sebentar
tentang kolam ikannya.
Kulit mbk yuni sangat putih dan wangi harumnya sampai
menusuk hidungku. Tak lama kemudian ia pamit mau ganti baju.
Mataku tak bisa lepas memperhatikan
Mbak Yuni dari belakang. Kulitnya benar-benar putih.
Jujur, saat itu aku sempat berpikiran yang aneh aneh.
Haripun berganti petang, udara dingin pegunungan mulai
terasa.
Setelah makan malam kami nonton tivi sambil ngobrol banyak
hal, sampai tak terasa sudah pukul sembilan.
"Ris nanti kamu bobo sama aku ya, Mbak kangen lho
seperti dulu" kata Mbak Yuni.
"Apa Mbak?" Kataku terkejut.
"Iya.. Kamu nanti bobok sama aku saja.
Inget nggak dulu
waktu kamu masih kecil sering bobo bareng" katanya.
"Iya Mbak aku inget" jawabku.
Aku sempat terkejut. Sekarang kan aku sudah dewasa.
Waktu itu kan aku masih SD, pikirku dalam hati.
"Nah ayo tidur, Mbak udah ngantuk nih"
kata Mbak Yuni sambil
beranjak melangkah ke kamar tidur dan aku mengikutinya dari belakang, pikiranku
sudah tak karuan.
Sampai dikamar tidur aku masih ragu untuk tidur.
"Ayo jadi tidur nggak?" tanya Mbak Yuni.
Lalu aku naik dan tiduran disampingnya.
Aku deg-degan. Kami masih ngobrol sampai jam 10 malam.
"Tidur ya.. Mbak udah ngantuk banget" kata Mbak
Yuni.
"Iya Mbak" kataku walaupun sebenarnya aku belum
ngantuk, karena pikiranku terbayang-bayang pemandangan sore tadi, apalagi kini
Mbak Yuni terbaring di sampingku.
Aku melirik ke arah Mbak Yuni dan kulihat ia telah tertidur
lelap.
Dadaku semakin berdebar kencang tak tahu apa yang harus aku
lakukan. Ingin aku membelainya, tapi itu tidak mungkin, pikirku.
Aku berusaha menghilangkan pikiran kotor itu, tapi tetap tak
bisa sampai jam 11 malam. Lalu aku putus kan
untuk membelainya sebentar saja.
Dengan dada berdebar-debar aku pun melakukannya perlahan.
Kemudian dengan pelan-pelan aku belai lengan mbk yuni. Kemudian turun ke pahanya.
Aku membelainya dengan perlahan, aku takut kalau dia
terbangun.
Sungguh terasa halus sekali dan kulakukan beberapa kali,
tetapi tiba-tiba Mbak Yuni terbangun.
"Aris! Apa yang kamu lakukan!" kata Mbak Yuni
dengan terkejut.
Ia membalikkan badan lalu duduk sambil menampar pipiku.
''Plakkk..''' Terasa sakit sekali.
"Kamu kok berani berbuat kurang ajar pada Mbak Yuni.
Siapa yang ngajari kamu?" kata Mbak Yuni dengan marah.
Aku hanya bisa diam dan menunduk takut. Aku tak berani
memandanginya.
"Tak kusangka kamu bisa melakukan hal itu padaku.
Awas nanti kulaporkan kamu ke nenek dan bapakmu" kata
Mbak Yuni.
''Jangan mbak..'' kataku ketakutan
"Mbak Yuni kan juga salah" kataku lagi membela
diri.
"Apa maksudmu?" tanya Mbak Yuni.
"Mbak Yuni masih menganggap saya anak kecil, padahal
kan aku udah besar Mbak, sudah 17 tahun.
Tapi Mbak Yuni masih
memperlakukan aku seperti waktu aku masih kecil, pakai bobo bareng aku segala.
Trus tadi sore juga, habis mandi Mbak Yuni hanya memakai handuk
saja didepanku.
Saya kan lelaki normal Mbak" jelasku.
Kulihat Mbak Yuni hanya diam saja, lalu aku berniat keluar
dari kamar.
"Mbak.. permisi, biar saya tidur saja di kamar
sebelah" kataku sambil turun dari ranjang dan berjalan keluar.
Mbak Yuni hanya diam saja. Sampai di kamar sebelah aku
rebahkan tubuhku dan mengutuki diriku yang berbuat bodoh dan membayangkan apa
yang akan terjadi besok.
Sungguh, saat itu aku merasa seperti orang paling bodoh
sedunia..
Kurang lebih 15 menit kemudian kudengar pintu kamarku
diketuk.
"Ris.. kamu masih bangun? Mbak boleh masuk nggak?"
Terdengar suara Mbak Yuni dari luar.
"Ya Mbak, silakan" kataku sambil berpikir mau apa
dia.
Mbak Yuni masuk kamarku lalu kami duduk. Aku lihat wajahnya
sudah tidak marah lagi.
"Ris.. Maafkan Mbak ya telah nampar kamu" katanya.
"Seharusnya saya yang minta maaf telah kurang ajar sama
Mbak Yuni" kataku.
"Nggak Ris, kamu nggak salah, setelah Mbak pikir, apa
yang kamu katakan tadi benar.
Karena lama nggak bertemu, Mbak masih saja menganggap kamu
seorang anak kecil seperti dulu aku ngasuh kamu.
Mbak tidak menyadari bahwa kamu sekarang sudah besar"
kata Mbak Yuni.
Aku hanya diam dalam hatiku merasa lega Mbak Yuni tidak
marah lagi.
"Ris, kamu bener mau sama Mbak?" tanya Mbak Yuni.
"Maksud Mbak?" kataku terkejut sambil memandangi
wajahnya yang terlihat bagitu manis.
"Iya.. Mbak kan udah nggak muda lagi, masa' sih kamu
masih tertarik sama aku?" katanya lagi.
Aku hanya diam, takut salah ngomong dan membuatnya marah
lagi.
"Maksud Mbak.., kalau kamu bener mau sama Mbak, aku
rela kok melakukannya dengan kamu" katanya lagi.
Mendengar hal itu aku tambah terkejut, seakan nggak percaya.
"Apa Mbak?" kataku terkejut.
"Bukan apa-apa Ris, kamu jangan berpikiran
enggak-enggak sama Mbak.
Ini hanya untuk
meyakinkan Mbak bahwa kamu telah dewasa dan lain kali tidak menganggap kamu
anak kecil lagi" kata Mbak Yuni
Lagi-lagi aku hanya diam, seakan nggak percaya. Ingin aku
mengatakan iya, tapi takut dan malu.
Mau menolak tapi aku pikir kapan lagi kesempatan seperti ini
yang selama ini hanya bisa aku bayangkan.
"Gimana Ris? Tapi sekali aja ya.. dan kamu harus janji
ini menjadi rahasia kita berdua" kata Mbak Yuni.
Aku hanya mengangguk kecil tanda bahwa aku mau.
"Kamu pasti belum pernah kan?" kata Mbak Yuni.
"Belum Mbak" kataku.
Malam itu kami lewati dengan indah.. Sungguh, ini untuk
pertamakalinya aku melakukannya.
Setelah malam itu, besoknya kami melakukannya lagi hingga 3
kali.
Aku dan mbak yuni pun merasakan kerinduan yang selama ini
terpendam.
Dulu yang hanya
sebatas sayang sebagai keluarga, kini berubah menjadi cinta buta yang saling
merindukan.
Kami terus melakukan ini sampai suami dan anak mbk Yuni
pulang (sekitar 3 hari).
Ya, selama 3 hari itu kami terus menjalin cinta terlarang
tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya.
Aku tau ini adalah sebuah kesalahan besar.
Karena mbk yuni sendiri masih memiliki suami, terlebih lagi
kami berdua bukan merupakan pasangan yang sah.
Setelah suaminya dan anaknya pulang kerumah, kami pun
sepakat untuk mengakhirinya.
Aku pun juga setuju, meskipun dalam hati ini aku tak rela
melepaskan dan berpisah dengan mbak yuni.
Tapi apa mau dikata, mbk yuni sudah punya kehidupan sendiri
dan aku tak berhak untuk mengganggu kehidupannya..
Aku pun tak pernah bertemu dengannya lagi dan memutuskan
untuk kuliah di kota lain..
Hal ini kulakukan agar aku tidak teringat terus kepada mbk
Yuni..
Komentar
Posting Komentar